Jumat, 15 November 2013

Korsetku Sayang,Perutku Malang

Assalammualaikum,
Beberapa hari yang lalu aku timbang badan, beratku jadi 53Kg. Setelah itu aku mulai kalap banyak makan dan banyak minum es. Rasanya benar-benar deh ah, surga dunia itu emang makanan. Maka akibat dari ketidakmampuan bibirku untuk menahan diri, maka pas iseng-iseng pake timbangan kantor, aku shock berat. 63Kg tidak lebih apalagi KURANG!!!

Maka aku langsung loncat dr timbangan, wajahku pucat. Makin melar badanku,makin jauh dari impian masa kecilku untuk digendong ama suamiku di hari pernikahan kelak. TIDAAAAAAKKKKK!!!!

Kamis, 21 Februari 2013

Tahun Baru Status Baru

Assalammualaikum,

Alhamdulillah ini postingan pertamaku di tahun 2013 ya. Banyak hal yang terjadi, termasuk hubunganku bubar dengan Wiji Kustiawan. Laki-laki yang memadu kasih denganku hampir 2 tahun ini. Dia menikah dengan perempuan lain. Tanpa ngasih  kabar apa-apa. 

Jadi, awal tahun ini di bulan Januari aku mendatangi rumahnya. Aku bukan perempuan yang suka digantung dengan hubungan yang nggak jelas. Aku bilang ke ibunya, kalau memang nggak suka aku, nggak apa. Nggak usah nangis-nangis lagi sepanjang malam, dan jangan sampai sakit-sakitan. Aku juga cukup tau dengan perbedaan status sosial kami. Tapi tolong kasih tau aku apa alasannya Ibu nggak suka aku.

Tiba-tiba ibunya bilang kalau si Wiji Kustiawan itu dijodohkan udah sejak SMA, udah tunangan malah. Sebelum kenal sama aku. Faklah. Aku kan ketemu keluarga itu nggak cuma sekali dua kali dan nggak pernah tuh ada pembicaraan si laki itu udah ditunangin.

Tapi skip.skip.skip. Khawatir ntar jatuhnya fitnah.

Apapun yang sebenernya biar Allah aja yang tau. Allah kan nggak pernah tidur. Aku juga nggak menyesal selama ini aku berbuat baik dan selalu berusaha menjadi pasangan terbaik buat dia. Karena aku percaya setiap kebaikan yang diperbuat itu akan ada ganjarannya. Laki-laki itu mengaku ke seniornya sudah putus sama aku udah lama, dan dia minta kenalan ama cewek-cewek lain.. sudah dekat pula selama berbulan-bulan. Ya berarti kan emang laki-laki nggak bener... Di saat yang sama dia juga mempersiapkan pernikahannya. Karma itu ada. Tapi aku nggak akan mendoakan dia baik atau buruknya. Biar urusan dia ama Allah. 

Dua tahun terakhir aku anggap sebagai pembelajaran berharga dalam hidupku. Nggak ada kebetulan di dunia ini. Bahkan daun yang gugur pun atas kehendakNya. Suatu saat aku akan bersyukur hal ini terjadi. 

Bersyukur karena aku ditunjukkan sekarang sebelum dia yang jadi pasanganku. Bersyukur Allah menjauhkanku dari dia. Kalau nggak sekenceng ini cara Allah mengingatkanku, aku akan terus menerus dalam hubungan yang tidak jelas bersama dia. Alhamdulillah.

Nggak perlu waktu lama bagiku untuk move on,gals. Apapun ya, nggak ada alasan pembenar untuk sebuah pengkhianatan. Egoku terlalu tinggi untuk dibohongi. Aku takkan pernah menyesal berpisah dengan laki-laki yang khianat.

Allah kan sedang mempersiapkan jodoh terbaik buatku, jodoh dunia akhirat :*
Amin 

Senin, 29 Oktober 2012

Assalammualaikum...

Hehehe...
Alhamdulillah pada tanggal 13 Oktober 2012 berhasil menorehkan prestasi di Bidang Rias Pengantin. Kali ini sukses menyabet Juara II, harus bener2 belajar lebih giat lagi untuk jadi juara I di lomba berikutnya :)


Yippie!!!

Semoga orderan makin laris setelahnya... hehehhehee...

Selasa, 10 Juli 2012

Mendalami Bakat dan Hobi

Hallo...
Lama banget nih nggak ngeblog :D
Maklum lah kan aq lagi sibuk banget ama pekerjaan di akhir periode Semester I, yang nggak hanya menguras pikiran, tenaga, waktu tapi juga menguras isi kantong. Ya iyalah, soalnya tiap ngerjain tugas aku harus sambil nyamil... tukang jualan apa aja pasti bakalan aku cegat sambil mengibas-ibaskan duit. Ujung-ujungnya, beban pekerjaan berangsur-angsur berkurang tapi berat badan  bertambah dengan drastis. Wooooo...

Saat ini seiring berjalannya waktu beban pekerjaan mulai berkurang dan kembali normal. Sekalipun setiap tugas memiliki deadline dan kebiasaan pulang lembur masih tidak bisa dihindari. Well, Koko Hadi pernah bilang sih, Lembur itu satu paket dengan konsekuensi pekerjaan loh. Yeah bener banget :)

Nah, meski beban pekerjaan semakin meningkat karena bisa dibilang aku masuk dalam divisi menuju WTP (salah satu opini pelaporan keuangan negara gitu deeeyh) tapi aku masih ngerasa kurang punya aktivitas lain untuk menyalurkan bakat,hobi dan pelarianku atas penat yang terkadang menyapa.

Aku memutuskan untuk menekuni hobi merias dengan serius. Kalau selama ini aku merias untuk keluarga dan beberapa rekan untuk menerima side job merias. Ditambah beberapa kali aku harus make up-in model2ku untuk hobi fotografi ku :D Makanya kalau nerima job rias penerima tamu, pesta dan wisuda sih aku setujuuuu aja... wkwkwkwkw...

Karena pernah ngerasain hasil riasan murid bu Ambar di Kerinci, maka aku nggak ragu lagi menentukan tempat belajar Rias Pengantin ku.Hasil riasan yang halus dan benar-benar nggak diragukan lagi deh. Lagian tempatnya cukup dekat dengan kantorku, makanya kalau lemburan aku seneng-seneng aja sih, soalnya kan habis lembur terbitlah terang...eh, habis lembur terbitlah waktu kursus.

Aku ngerasa nemuin passion di dunia make up. Aku ngerasa seneng banget tiap make-up in orang :).
Karena itulah aku nggak ragu-ragu untuk menguras tabungan guna memenuhi perlengkapan make up dan bahan-bahan yang aku butuhkan. Nggak tanggung-tanggung aku langsung beli yang kualitas nomer wahid. Akibatnya mudah ditebak lah, rekening merosot dengan tajam sampai harus memberlakukan subsidi silang ama kekasih tercinta yang selalu mendukungku :D

Nah, ketika berlatih rias pengantin itulah aku mendapatkan banyak sekali tips make up yang bermanfaat. Selain itu aku diajarkan teknik-teknik khusus yang mampu menciptakan riasan spektakuler!

Karena aku mendukung motto : Keep Learn, Keep Share and Keep Down To Earth maka aku membuat blog untuk berbagi (dan berpromosi sebenernya :D ) klik disini

Sekarang kemampuan meriasku meningkat pesat, berkat arahan dari pengajar2 yang handal dan telaten. Makanya udah berani ambil job akad, prewedding dan wisuda :*

Buat yang mau ikutan daftar, ayoook :D

Rabu, 04 Juli 2012

Komitmen

Assalammualaikum,

Tahun lalu hubunganku dengan mas Wiji mendapatkan cobaan dari pihak orang tuaku yang tidak setuju aku menikah dengan lelaki yang usianya terpaut cukup jauh. Melalui pembicaraan intense, perselisihan demi perselisihan hingga perang dingin yang terjadi akhirnya meluluhkan hati orang tuaku.

Berbesar hati mereka akhirnya mengijinkanku untuk melanjutkan hubungan dengan mas Wiji, tanpa perlu perselisihan dan pertemuan diam-diam kami lagi. Alhamdulillah.

Pada bulan kedua setelah restu itu hadir, orang tuaku mulai bertanya arah hubungan kami. Masih dengan mantap aku menjawab bahwa kami serius. Bahkan impian untuk melangsungkan lamaran pada hari Ulang Tahunku seakan tampak nyata. Tapi bulan demi bulan berlalu, aku berusaha menyampaikan pada mas Wiji mengenai komitmen, dijawab hanya dengan anggukan kepala, tatapannya yang penuh cinta dan rencana yang dia simpan untuk dirinya sendiri.

Bulan demi bulan kembali berlalu begitu saja, hubungan kami dipenuhi suka dan duka. Terkadang kami begitu rukun tapi tak jarang pula aku yang biasanya meributkan sikap dan sifatnya. Padahal dari awal dan sepanjang hubungan kami selama ini aku sudah mengetahui bagaimana dirinya, tetapi tetap saja ada hal-hal yang membuatku kesal dan aku berharap dia nggak melakukan kesalahan yang sama lagi.

Sesekali ayahku mengangkat topik, kapan mas Wiji dan Ibunya kerumah. Makin sering ayah bertanya dan mama berusaha memberikan kesan bahwa orang tuaku nggak memaksa untuk cepat-cepat, maka semakin tidak yakin aku harus menjawab bagaimana.

Mas Wiji sudah mengutarakan apa yang menjadi hambatan saat ini, Ibunya. Ibu masih meminta mas Wiji berfikir lagi. Dan yang aku sesalkan mungkin Mas Wiji juga kurang meyakinkan ketika berkata dan setelah kakak Mas Wiji membantu bicara dengan Ibu, Mas Wiji tidak ada follow up lagi. Alasan Mas Wiji karena dia belum ketemu dengan ibunya.

Minggu-minggu ini orang tuaku mulai sering membicarakan tentang Mas Wiji. Beliau tidak ingin ada kesan kami yang memaksa mempercepat pernikahan, aku juga di posisi yang serba salah. Apalagi sejak pembicaraan harta saat itu.

Keluarga yang memang tidak punya warisan mungkin memang tidak sepantasnya mengajukan anaknya ke keluarga yang sudah mempersiapkan harta untuk anak-anaknya. Nggak, aku juga nggak mau muncul pemikiran seperti itu. Aku nggak pernah tau harta mas Wiji apa aja dan dimana aja, aku nggak pernah berpikiran menikmati harta warisannya, Astaghfirullah...

Tapi aku mengerti pemikiran orang tuaku, usia mas Wiji yang saat ini 31 tahun tentu membuat orang tuaku berfikir bahwa pernikahan harus segera dilangsungkan untuk menjagaku sendiri. Orang tuaku yang menikah di usia 28 tahun saja merasa bahwa pernikahan mereka terlambat, akibatnya saat anak-anaknya masih membutuhkan biaya, orang tuaku masih harus bekerja keras di usia yang sudah bisa dikatakan saatnya beliau beristirahat dan kami yang menyenangkan hati beliau...

Orang tuaku juga mengherankan mengapa tahun lalu kami begitu fight memperjuangkan hubungan kami, tetapi begitu mendapatkan restu orang tuaku, justru tidak ada lagi pembicaraan atau langkah-langkah kami ke arah serius.

Aku paham bahwa Mama memang menginginkan pesta pernikahan yang meriah,secara aku adalah anak perempuan satu-satunya, sedang ayahku berharap biasa-biasa aja. Sekalipun sebenernya aku punya impian pesta pernikahan sendiri, tapi dengan usiaku, tabunganku dan pemikiran-pemikiran lainnya seiring bertambahnya usiaku, impian itu akhirnya menjadi sebuah hal yang selalu bisa dinegosiasikan.

Sebagai laki-laki mas Wiji diharapkan punya target mau dibawa kemana hubungan ini dan kapan step by step yang harus dia lakukan akan terwujud. Kalau sekedar niatan menikah tahun ini tanpa ada target step by step sama saja masih ambyar...

Dan orang tuaku mengingatkanku untuk mulai menarik diri darinya, menjaga hatiku yang mudah hancur ini untuk tidak terlalu berharap...

Aku yakin orang tuaku berusaha memberikan pemahaman yang baik untukku.

Laki-laki itu pemimpin. Jika dia tidak bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, jika dia tidak bisa menentukan langkahnya kemana dan kapan maka laki-laki itu tidak cukup baik bagimu. Komitmen itu begitu mudah dijanjikan tapi tidak dengan tindakannya.

Senin, 23 April 2012

Merubah Mindset

Permasalahan bulan Maret lalu antara Gw dan Mas Wiji memang bisa dibilang fase paling berat di kehidupan kami. Gw ngerasa sebal gara-gara Mas Wiji nggak bisa belain Gw di hadapan perempuan yang menghina Gw, ditambah sedikitnya waktu yang dia kasih buat Gw akhirnya membuat Gw jengah.

Untungnya saat itu Gw punya sahabat-sahabat yang baik. Salah satunya seseorang yang Gw anggep sebagai kakak,sebut saja namanya Mister B. Gw ngerasa gw butuh pandangan seorang laki-laki, setelah gw cerita ke Mister B, Gw akhirnya tersadarkan,bahwa mindset Gw akhir-akhir ini mulai ke arah yang tidak benar.

Gw pikir setelah Mas Wiji mengutarakan maksudnya untuk menikahi Gw itu artinya Mas Wiji adalah dunia Gw. Gw jadi menuntut perhatiannya, Gw jadi memperhatikan sedetail mungkin sikap dia ke Gw. Saat Gw lagi butuhin dia dan Gw bilang secara tersirat...dia justru tidak peka dan asik dengan dunianya sendiri.

Akhirnya setelah perbincangan Gw dengan Mister B, well...harus Gw akui bahwa selama ini Gw mengorbankan diri Gw sendiri. Misalnya kalau Gw udah ada janji ama orang lain,tapi Mas Wiji lantas kosong dan ngajak Jalan maka Gw akan ikutan Mas Wiji dan membatalkan acara Gw. Padahal ketika Gw kosong dan ngajak Mas Wiji jalan, dia cukup "jual mahal" untuk nggak keluar ama Gw.

Daripada Gw yang jadi nggak asyik karena menuntutnya untuk laporan dan semacamnya hanya karena Gw takut kehilangan dia, maka sejak malam aku makan berdua ama Mister B itu Gw balik lagi jadi Tiar jaman dulu. Sosok Tiar yang jual mahal dan seakan tidak membutuhkan.

Mindset Gw yang semula bisa jadi lemah di hadapan Mas Wiji dan cenderung membuatnya nggak nyaman akhirnya Gw balikin lagi menjadi diri Gw yang sebelumnya.

"Halooo, Gw Tiar Nurita, Lo bisa panggil Gw Tiar. Gw lulus setelah 3,5 tahun menempuh ilmu hukum di Universitas Airlangga. IPK gw Cumlaude,dan meski Gw bukan lulusan terbaik tapi Gw berhasil jadi Mahasiswa Prestasi dua tahun berturut-turut. Gw masih muda, Gw punya keahlian berbisnis, Gw multitalent dan Gw punya karir. Disamping itu, Gw seksi karena kecerdasan otak gw dan kehebatan gw dalam bersosialisasi dengan orang lain. Gw juga masih muda dan berbakat. So, Gw adalah seseorang hebat, Gw bukan wanita yang pantas untuk mengekang laki-laki. Jadi,ngapain Gw mengorbankan diri Gw sendiri. Harusnya Gw happy-happy aja kaleee.... 

Hihihi...

TAPI ITU BUKAN BERARTI GW NGGAK BUTUH MAS WIJI

Gw tetep wanita yang membutuhkan seorang laki-laki dan itu Mas Wiji. Gw cinta sama dia, gw sayang dan gw akan tetap mempertahankan dia. Ketika ama Gw, dia emang calon suami Gw, yang harus fokus ama kebersamaan kami dan dia harus menunjukkan kasih sayangnya ke Gw. Tapi ketika dia ada acara kerjaan, itu adalah saat dimana dia sedang bekerja keras bagi Gw dan masa depan kami berdua. Ketika dia bersama teman-temannya, maka itu adalah dunianya. Masa dimana dia harus bersosialisasi dan memenuhi kebuthannya sebagai makhluk sosial.

Demikian pula Gw, Gw menikmati masa-masa dimana Gw lagi sibuk ama kerjaan Gw, juga momen kebersamaan Gw dengan sahabat. Gw udah mulai menempatkan diri Gw secara benar, ketika Gw udah ada janji dengan orang lain,Gw ga akan mengorbankan janji itu untuk ketemu ama Mas Wiji. Artinya kami harus reschedule. 

Kehidupan hubungan kami berangsur membaik, dia sekarang jauh lebih care dan peduli ke Gw. Semanjak Gw bermetamorfosa menjadi wanita mandiri yang berprinsip, dia jauh lebih menghargai Gw. Gw juga lebih respect ama dia. Hubungan kami jadi penuh cinta dan kebahagiaan. 

Yaaaa.... kadang Gw emang ngambek lagi sih, kalau dia mulai kumat ditanyain janji tapi jawabannya "mudah-mudahan..." kayak nggak diniati gituuuu..... >.<

Gw bahagia jadi calon istrinya dan dia juga lebih sering mencurahkan romantisme ke Gw.

Intinya sih, semakin Gw jual mahal, semakin dia sayang dan cinta ama Gw. Tapi ketika dia lagi jual mahal ya balik lagi Gw yang berusaha mengalah...

Love Mas Wiji so Much!

Rabu, 01 Februari 2012

Menerima Apa Adanya Itu Tidak Mudah, Kawan

Saya sedang PMS, Pre Menstrual Syndrom. Bukan secara physically tapi secara emosional. Saya ingin dimanja, ingin lebih diperhatikan dan lebih sering memiliki waktu spesial berdua dengan pasangan.

Tapi ketika pasangan saya sedang sibuk dengan pekerjaannya dengan alasan auditor mau memeriksa, saya paham. Secara ketika instansi saya didatangi auditor kami pun begidakan mengumpulkan berkas-berkas. Saya bisa mengalah, mengisi waktu saya dengan kegiatan lain. Mengalihkan emosi PMS saya yang tidak tersalurkan kepada sandsack dan target.

Tetap saja saya merasa kehilangan, seringkali ketika dia tidak sibuk saja dia sudah cukup percaya saya bisa mandiri (baca: cuek) apalagi ketika dia sibuk. Jarang bertatap muka ditambah dengan minimnya komunikasi sekalipun kami terhubung dengan berbagai media komunikasi, membuat saya semakin senewen. Kami bertemu hanya dalam kegiatan tertentu, bukan waktu spesial yang saya harapkan hanya ada saya dan dia.

Saya sudah merajuk, sudah memohon bahkan bisa dibilang mengemis. Sampai nangis juga dia tidak mengabulkan permintaan saya karena banyak pekerjaan. Lantas bagaimana perasaan saya ketika saya berharap weekend ini punya waktu bersamanya justru dia meluangkan seharian waktunya bersama teman-temannya dan tidak mengacuhkan keinginan saya?

Saya sakit hati, merasa tidak diinginkan, merasa diabaikan, merasa tidak berarti bagi dia. Saya terdiam sepanjang perjalanan kami, dia bilang pekerjaan akan diselesaikan sebelum Sabtu agar bisa menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Bukan dengan saya,tidak untuk saya.
Kejadian ini sudah beberapa kali terulang, setiap saya protes, marah, ngomel dan diam dia selalu meminta maaf dan termaafkan.

Tapi kali ini, karena hormon saya sedang labil, keinginan saya diabaikan, saya butuh perhatian dan tidak mendapatkannya, saya ingin waktu untuk kami berdua juga tak terkabul, maka saya memutuskan diam.

Mungkin memang demikianlah dia, yang tidak benar-benar paham keinginan saya. Saya hanya ingin dimanja, diperhatikan, saya ingin bercanda dengan dia yang hanya terwujud kalau kami hanya berdua. Saya senang memiliki waktu berdua dengan dia, saya jadi bisa melihat tertawanya yang lepas karena saya, dia bisa bertingkah lucu tanpa malu di depan saya. Itu hanya terwujud di waktu kami hanya berdua. Karena itu aku membutuhkan waktu istimewa itu. Tapi rupanya dia memang demikian adanya.

Dulu saya uring-uringan karena dia lebih sering bertemu dan perhatian pada teman- temannya, lantas dia mengenalkan saya pada teman-temannya, tapi itu juga tidak berarti dia dapat mengabaikan saya. Memang minggu lalu dan minggu ini dia sering mengajak saya bertemu dengan teman-temannya, tapi itu jelas berbeda dengan waktu jalan-jalan, makan,nonton,atau kegiatan lain berdua saja. Hal yang sudah sebulan ini tidak pernah lagi kami lakukan.

Bukan berarti mengajak saya bertemu teman-temannya sama dengan dia meluangkan waktu untuk saya, itu jelas berbeda. Saya menikmati saat-saat saya berbincang dengan teman-temannya, bercanda dan tertawa bersama teman-temannya tapi saya juga membutuhkan keberadaan dia secara personal juga.

Saya lelah berulang kali protes, marah dan ngomel tentang cara dia membagi waktu bagi hubungan kami. Mungkin memang demikianlah dia, dan saya harus memendam perasaan ini entah sampai kapan dan sekuat apa.

Saya menyayanginya, teramat sangat. Hal yang membuat saya dengan mudah memaafkannya. Saya mencintai juga teramat dalam. Tetapi menjaga perasaan itu tetap butuh maintenance, bukan berarti kami telah menjalin hubungan serius lantas saya tidak butuh perhatian, waktu dan pujian.

Kali ini saya harus kembali realistis, laki-laki takkan berubah. Saya harus menerima dia apa adanya, kalau tidak sanggup berarti saya harus mengikhlaskannya. Saya tidak mau menjadi wanita yang memendam perasaan tidak suka terus-menerus lantas selingkuh dengan orang lain yang sanggup memberikan saya perhatian, pengertian,waktu dan pujian.

Cinta itu tidak buta, hanya kita yang terlalu nyaman menutup mata di dalamnya. Ini waktu bagi kami untuk evaluasi diri masing-masing. Apakah saya yang terlalu banyak menuntut atau dia yang memang "lupa" bahwa dia yang memutuskan memiliki saya sebagai bagian dari hidupnya? Juga apakah masing-masing dari kami sudah siap menerima sifat dan perilaku pasangan masing-masing? Saya pribadi tidak siap dan takkan pernah mau diperlakukan begini.


*rasanya lega sudah bisa menuangkan kejujuran lewat tulisan tanpa bermaksud menyalahkan, menyakiti, mengintilidasi orang lain. Rasanya lega meneteskan air mata dan sesenggukan menangisi perasaan saya kali ini.

Jika memang berjodoh,mudahkan kami saling mengisi dan memahami, jika tidak berjodoh maka mudahkan hati kami untuk ikhlas..